3 Profesi Yang Tidak Akan Membuat Generasi Milenial Nganggur

Foto Menuju Ruang Kuliah STMIK Jabar

Target Revolusi Industri 4.0 bakal terwujud 2030. Kemenperin.go.id menunjukkan kebutuhan tenaga kerja sektor teknologi digital 2030 mencapai 17 juta orang. Tiga profesi yang dibutuhkan semuanya terkait Teknologi Informatika (TI), yaitu
1. Ahli kecerdasan buatan
2. Pakar pengelolaan data
3. Start up valuator.

Silaturahmi STMIK Jabar, Al Ghifari dan LLDIKTI Jabar dan Banten

Kepala LLDIKTI Jabar dan Banten, Prof. Uman Suherman memberikan pesan untuk menjadi dosen yang profesional. Beliau juga bercerita sedikit tentang pengalamannya studi ke luar negeri yang salah satu pesannya agar kita gemar membantu orang lain karena kita juga akan dimudahkan oleh Allah SWT. Acara tersebut dihadiri oleh para dosen dari STMIK Jabar dan Unfari. Kedua perguruan tinggi tersebut berada dalam satu yayasan, yakni Al Ghifari.

Seusai acara, tibalah sesi berfoto bersama. Dari kiri ke kanan, Pendiri sekaligus Ketua Pembina Yayasan Al Ghifari, Kepala LLDIKTI Jabar dan Banten, Ketua Pengurus Yayasan Al Ghifari, Rektor Unfari, dan Ketua STMIK Jabar.

Workshop Online “Optimalisasi Microsoft Word Untuk Pembuatan Karya Ilmiah”

Setelah diskusi online “Kuliah Jurusan Informatika Ngapain aja?”, UKM Media Kampus STMIK Jabar menyelenggarakan workshop online “Optimalisasi Microsoft Word Untuk Pembuatan Laporan Karya Ilmiah” pada 1 Juni 2020. Pelaksanaan acara ini diselenggarakan oleh mahasiswa sebagai bentuk kaderisasi generasi muda yang kreatif dan cerdas dalam berkarya.

Narasumber: Idi Sumardi
Pelaksanaan: 1 Juni 2020
Peserta: Siswa/Mahasiswa/Umum

Profil Narasumber:
Wakil Ketua STMIK Jabar, Tim Ahli Kemdikbud, spesialisasi jaringan komputer.

Diskusi Online “Kuliah Jurusan Informatika Ngapain aja?”

Narasumber: Hendra Sandi Firmansyah
Pelaksanaan: 21 Mei 2020
Peserta: Siswa/Mahasiswa/Umum

Profil Narasumber:
Dosen STMIK Jabar, peneliti di Smart City and Communication Innovation Centre ITB in smart cities implementation for more than 22 cities in Indonesia. Saat ini, sedang finalisasi pendidikan jenjang S3 (doktoral). Beliau meraih penghargaan:
1) Visiting Reseacher at Northern Illinois University, Chicago, USA;
2) ProSPER.NET Young Reseacher Scholarship at Asian National University – Institute for the Advanced study (UNU-IAS) Tokyo, Japan;
3) Nuffic-nesso StuNed scholarship for smart city training at D’Hague Academy, Netherland.

Kuliah Sistem Informasi atau Teknik Informatika?

Kuliah Sistem Informasi (SI) atau Teknik Informatika (TI/IF)?

Keduanya sangat mirip. Bahkan saya pernah melihat skripsi-skripsi jurusan SI dan TI ada yang sama formatnya.

Walaupun demikian, ada yang mencoba memberikan rincian perbedaan keduanya, antara lain:

TI: mahasiswa diharuskan jago ngoding atau membuat aplikasi berbasis Teknologi Informatika, baik desktop (komputer) maupun mobile (handphone).

Sedangkan di SI, mahasiswa sebaiknya cenderung memikirkan TI dari sudut pandang bisnis/manajemen/analisis. Mahasiswa lulusan SI diharapan dapat membantu lulusan TI memasarkan produknya agar layak jual.

Bagaimana dengan skripsinya?
Sebagian kampus berharap bahwa baik mahasiswa TI maupun SI mampu membuat aplikasi komputer.

Akan tetapi, saya pernah mengenal beberapa mahasiswa jurusan Ilmu Komputer sebuah perguruan tinggi negeri yang pintar-pintar. Mereka tidak selalu diarahkan untuk membuat aplikasi tapi mereka ada yang diarahkan membuat skripsi berisi analisis tanpa pembuatan program aplikasi.

Kesimpulannya, isi kurikulum TI dan SI sangat mirip. Biasanya, mahasiswa bisa mengusulkan sendiri, apakah mau membuat program aplikasi atau tidak.

Apakah skripsi tanpa program aplikasi itu kualitasnya rendah? Tidak juga karena S2 bahkan mahasiswa tidak dianjurkan membuat aplikasi karena pembuatan aplikasi setahu saya itu ranah lulusan D3.