Alunan Quote dan Gitar BAAK “K-Pop”

Pak Imam atau sering kami dengar teman memanggilnya “A Imam”, ada juga yang manggil “Kang Imam” adalah kepala BAAK STMIK Jabar saat ini. Kalau nanya nilai, kami biasanya nanya A Imam.

A Imam ini lulusan Informatika. Akan tetapi, tarian-tarian coding dan algoritma tak membuatnya terkekang dalam berkreasi.

IG-nya, @imam_sh93, seringkali berbagi quote-quote indah, inspiratif, bahkan puitis dan lucu. A Imam juga pandai menarikan jari jemari sambil merenda suara dan petikan gitarnya. Eh iya.. A Imam ini mirip-mirip Korea yaa 🙂 🙂

Indonesia Darurat Programmer

Belajar bahasa pemrograman atau lazim juga disebut ngoding merupakan salah satu yang dipelajari pada disiplin ilmu bidang TIK dalam menjawab tantangan di era Revolusi Industri 4.0.

Setiap harinya di Indonesia banyak sekali lowongan pekerjaan yang membutuhkan programmer baik itu programmer berbasis web ataupun mobile dan juga profesi serumpun lainnya. Menurut informasi dari Kominfo, Indonesia berambisi menjadi negara ekonomi digital terbesar se-Asia Tenggara pada 2025 mendatang. Namun jumlah programmer yang ada saat ini menjadi kendala dan disebut masih belum bisa memenuhi kebutuhan alias supply and demand masih belum balanced.

Dan sebagai perbandingan kualitas Pendidikan khusus TIK Indonesia menempati peringkat ke-8 di Asia Tenggara dan masih kalah jauh oleh negara tetangga lainnya. Selain kualitas pun juga dengan kuantitas programmer di Indonesia masih sedikit sekali jika dibandingkan dengan kebutuhan dunia Industri. Sehingga banyak perusahaan raksasa di Indonesia sebut saja seperti Gojek, Tokopedia, Traveloka “mengimpor” tenaga ahli dari negara lainnya untuk membantu membangun sistem dan infrastruktur terutamanya yang paling saya sering dengar adalah dari negara Bollywood alias India.

Lalu ada dimana programmer Indonesia?
Lewat info dari beberapa teman yang bekerja di perusahaan sekelas Unicorn di Jakarta. Pada umumnya tenaga ahli yang diimpor oleh perusahaannya merupakan seorang ahli Software Engineering yang sengaja didatangkan untuk melatih (training) programmer dari negri kita sendiri. Dan tenaga ahli inilah yang bertanggung jawab untuk meningkatkan skill programming adapun mereka dibayar per jam nya berkisar pada 4 digit dollar!

Bukan berarti penulis merendahkan kualitas dari tenaga ahli asal negri sendiri, akan tetapi jumlahnya yang masih sedikit memaksa banyak perusahaan besar untuk merekrut dari negara luar sebagai langkah akselerasi yang paling efektif.

Dan sebagai bahan pertimbangan terutama bagi mahasiswa jurusan TIK, baik yang focus sedari awal masuk kuliah ataupun mahasiswa yang merasa salah dalam mengambil jurusan, ayo tanggung jawab selesaikan kuliah dengan baik dan jangan lupa mulailah belajar ngoding dari sekarang! (Galih, M.Kom., Dosen STMIK Jabar)

Perpustakaan Digital

STMIK Jabar terus berbenah diri, salah satunya dengan membangun perpustakaan online (lib.stmik-jabar.ac.id). Langkah ini diharapkan akan menjadi titik awal menuju perpustakaan digital yang lebih memprioritaskan pada penyediaan referensi-referensi tentang Teknologi Informatika dan Sistem Informasi.

Dengan perpustakaan online, para pengguna perpustakaan, terutama mahasiswa minimal dapat mencari referensi dari mana pun selama ada koneksi internet, misal dari rumah masing-masing, luar kota, dan tempat lainnya.

Awalnya, perpustakaan dikembangkan oleh perpustakaan Kementerian Pendidikan Nasional. Sekarang, dikembangkan oleh komunitas pustakawan, setiap orang berhak untuk berkontribusi. Prinsip pemasarannya antara lain: release early, release often, dan mendengarkan pemakai.

Secara umum, perpustakaan terbagi menjadi tiga bagian, yakni Pengolahan (pengadaan), Sirkulasi (peminjamanan dan pengembalian), dan Referensi (hanya boleh dibaca di tempat).

Semoga perpustakaan STMIK Jabar bisa terwujud menjadi perpustakaan digital yang mencerdaskan bangsa, terutama melek Informatika. Salam Literasi! (Agus, S.Kom., Pustakawan STMIK Jabar)

Metode Pembelajaran Blended Learning di Saat Pandemi Covid-19

Berkaitan dengan Metode pembelajaran di Kampus STMIK Jabar, pandemi Covid-19 memberikan tantangan tersendiri. Beberapa dosen STMIK Jabar sudah terbiasa menerapkan metode pembelajaran blended learning dalam perkuliahan. Materi yang diberikan menggunakan media video tutorial dan beberapa aplikasi pembelajaran online yang sudah ada, seperti: WA Group, Google Classroom, Zoom, Meet Google, bahkan Cisco WebeX, merupakan nilai tambah. Budaya ini menjadi konsen STMIK Jabar saat ini, termasuk program studi Sistem Informasi untuk terus membiasakan dan upaya peningkatan serta pemerataan pada setiap dosen maupun mahasiswa sehingga menjadi habit untuk tetap menjaga kualitas perkuliahan sesuai dengan semua capaian pembelajaran baik pada setiap matakuliah maupun capaian program studi dan institusi. (Kaprodi Sistem Informasi STMIK Jabar: Edi Firdaus, S.Kom., M.Kom.)

Silaturahmi STMIK Jabar, Al Ghifari dan LLDIKTI Jabar dan Banten

Kepala LLDIKTI Jabar dan Banten, Prof. Uman Suherman memberikan pesan untuk menjadi dosen yang profesional. Beliau juga bercerita sedikit tentang pengalamannya studi ke luar negeri yang salah satu pesannya agar kita gemar membantu orang lain karena kita juga akan dimudahkan oleh Allah SWT. Acara tersebut dihadiri oleh para dosen dari STMIK Jabar dan Unfari. Kedua perguruan tinggi tersebut berada dalam satu yayasan, yakni Al Ghifari.

Seusai acara, tibalah sesi berfoto bersama. Dari kiri ke kanan, Pendiri sekaligus Ketua Pembina Yayasan Al Ghifari, Kepala LLDIKTI Jabar dan Banten, Ketua Pengurus Yayasan Al Ghifari, Rektor Unfari, dan Ketua STMIK Jabar.

Kuliah Sistem Informasi atau Teknik Informatika?

Kuliah Sistem Informasi (SI) atau Teknik Informatika (TI/IF)?

Keduanya sangat mirip. Bahkan saya pernah melihat skripsi-skripsi jurusan SI dan TI ada yang sama formatnya.

Walaupun demikian, ada yang mencoba memberikan rincian perbedaan keduanya, antara lain:

TI: mahasiswa diharuskan jago ngoding atau membuat aplikasi berbasis Teknologi Informatika, baik desktop (komputer) maupun mobile (handphone).

Sedangkan di SI, mahasiswa sebaiknya cenderung memikirkan TI dari sudut pandang bisnis/manajemen/analisis. Mahasiswa lulusan SI diharapan dapat membantu lulusan TI memasarkan produknya agar layak jual.

Bagaimana dengan skripsinya?
Sebagian kampus berharap bahwa baik mahasiswa TI maupun SI mampu membuat aplikasi komputer.

Akan tetapi, saya pernah mengenal beberapa mahasiswa jurusan Ilmu Komputer sebuah perguruan tinggi negeri yang pintar-pintar. Mereka tidak selalu diarahkan untuk membuat aplikasi tapi mereka ada yang diarahkan membuat skripsi berisi analisis tanpa pembuatan program aplikasi.

Kesimpulannya, isi kurikulum TI dan SI sangat mirip. Biasanya, mahasiswa bisa mengusulkan sendiri, apakah mau membuat program aplikasi atau tidak.

Apakah skripsi tanpa program aplikasi itu kualitasnya rendah? Tidak juga karena S2 bahkan mahasiswa tidak dianjurkan membuat aplikasi karena pembuatan aplikasi setahu saya itu ranah lulusan D3.